Yosua 24:15
“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”
Keluarga
Keluarga masa kini menghadapi tekanan ekonomi, pengaruh media digital, pergaulan bebas, konflik rumah tangga, dan menyusutnya waktu kebersamaan. Dalam situasi seperti ini keluarga Kristen harus menentukan arah hidupnya — dan Yosua memberi keputusan yang tegas.
Yosua menyampaikan pidato perpisahan setelah Israel memasuki Tanah Perjanjian, mengingatkan segala kebaikan Tuhan sejak zaman Abraham. “Pilihlah pada hari ini” menegaskan bahwa mengikut Tuhan adalah keputusan sadar; “aku dan seisi rumahku” adalah tanggung jawab rohani kepala keluarga; “beribadah” berarti melayani, menghormati, dan mengutamakan Tuhan dalam seluruh kehidupan.
Ayat ini kerap dipahami seolah kepala keluarga dapat memaksa seluruh anggotanya beriman. Kepemimpinan Yosua justru lahir dari keteladanan: ia lebih dulu memilih Tuhan sebelum mengajak keluarganya. Masalah muncul ketika orang tua menuntut anak hidup saleh tanpa memberi teladan.
Empat laku yang sederhana namun menuntut kesetiaan: mendoakan anak-anak, mengajarkan firman Tuhan, menjadi teladan hidup yang benar, dan membangun mezbah keluarga.
Krisis relasi — satu rumah tetapi hidup sendiri-sendiri; meja makan digantikan layar ponsel. Krisis otoritas — media sosial sering lebih berpengaruh daripada orang tua. Krisis spiritualitas — rumah semakin modern, kehidupan rohani semakin kosong, dan muncul berhala baru: uang, karier, jabatan, popularitas.
Beribadah bukan sekadar hadir di gereja, melainkan menempatkan Tuhan sebagai pusat keputusan keluarga dan menjadikan rumah sebagai gereja kecil: ada doa bersama, ada saling mengampuni, ada kasih, dan ada waktu berkualitas bersama.
Yosua 24:15 bukan slogan di dinding rumah, melainkan deklarasi perlawanan terhadap arus zaman. Keluarga yang dibangun di atas harta akan goyah ketika harta hilang; keluarga yang dibangun di atas Tuhan tetap berdiri sekalipun badai menerpa.