08 Okt 2026Renungan35 menit baca
“Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari TUHAN.”
Amsal 16:33
Kajian ini disusun untuk menjawab satu pertanyaan praktis: apakah gereja dan komunitas Kristen hari ini masih boleh mengambil keputusan dengan undi, dan dalam hal apa? Untuk menjawabnya, dokumen ini menyajikan tiga lapis bahan secara berurutan — seluruh referensi Alkitab tentang undi, peristiwa-peristiwa sejarah gereja yang benar-benar memakainya, dan pendapat para ahli dari zaman bapa gereja sampai masa kini — lalu menutupnya dengan kerangka penerapan yang dapat langsung dipakai dalam rapat majelis, musyawarah jemaat, atau pengambilan keputusan komunitas.
Undi bukan tema pinggiran dalam Alkitab. Kata Ibrani gôrāl muncul sekitar tujuh puluh tujuh kali dalam Perjanjian Lama, dan praktiknya menyentuh hampir setiap lapisan kehidupan umat: ibadah, pembagian tanah, penunjukan jabatan, penyaringan perkara, bahkan pembagian beban yang tidak diinginkan siapa pun. Bagi gereja dan komunitas yang sedang menyusun tahapan pengambilan keputusan, bahan ini berharga justru karena Alkitab memperlihatkan batas-batasnya dengan sangat tegas — kapan undi dipakai, kapan ia tidak boleh disentuh, dan apa yang harus dikerjakan lebih dahulu sebelum undi boleh dipertimbangkan sama sekali.
גּוֹרָל (gôrāl), “undi”. Akar katanya kemungkinan besar menunjuk pada batu kecil atau kerikil kasar — benda fisik yang dipakai. Dari situ maknanya berkembang melalui tiga tahap yang penting secara teologis: (1) bendanya, kerikil yang dibuang; (2) prosedurnya, tindakan mengundi; (3) hasilnya, yaitu “bagian”, “milik pusaka”, dan akhirnya “bagian hidup” yang ditetapkan Allah. Perkembangan ini bukan kebetulan linguistik: apa yang jatuh dari undi menjadi bagian yang sah dari seseorang. Itulah sebabnya Mazmur 16:5-6 memakai kata yang sama untuk menyebut seluruh hidup pemazmur sebagai undian yang diteguhkan TUHAN.
פּוּר (pûr), “undi” (Ester 3:7; 9:24, 26). Ini kata pinjaman dari bahasa Akkadia (*pūru*), dan penulis Ester merasa perlu menerjemahkannya bagi pembaca Ibrani: “yaitu undi”. Catatan kecil ini bermakna — penulis sedang menandai bahwa yang dipakai Haman adalah perangkat kafir dari istana Persia, bukan undi Israel di hadapan TUHAN. Dari kata asing itulah lahir nama hari raya Purim.
κλῆρος (klēros), “undi”. Dalam bahasa Yunani kata ini menempuh perjalanan makna yang sama: undi → bagian → warisan. Karena itu Paulus dapat berbicara tentang “bagian dalam apa yang menjadi bagian orang-orang kudus” (Kol. 1:12), dan Petrus memperingatkan penatua agar jangan memerintah atas *klēroi*, bagian-bagian yang dipercayakan Allah (1Ptr. 5:3). Dari kata inilah, melalui jalur Latin, muncul istilah “klerus” — pengingat yang sering terlupa bahwa pelayan gereja bukan pemilik, melainkan penerima bagian.
אוּרִים וְתֻמִּים (Urim dan Tumim). Dua benda dalam tutup dada Imam Besar (Kel. 28:30; Im. 8:8) untuk “menanyakan keputusan” kepada TUHAN (Bil. 27:21). Ini sarana wahyu yang terikat pada jabatan imam, bukan sekadar undi. Yang perlu dicatat: sarana ini sudah lenyap pada zaman pasca-pembuangan — Ezra 2:63 dan Nehemia 7:65 menangguhkan sebuah perkara “sampai ada seorang imam bertindak dengan Urim dan Tumim”, penantian yang tidak pernah terpenuhi dalam Alkitab.
Tabel berikut memuat seluruh nas utama, dikelompokkan menurut fungsi undi. Kelompok inilah yang nanti menentukan boleh-tidaknya sebuah penerapan masa kini (lihat Bagian IV).
| Fungsi | Nas | Keterangan singkat |
|---|---|---|
| Dalam ibadah | Imamat 16:7-10 | Dua undi atas dua kambing jantan pada Hari Pendamaian |
| 1 Tawarikh 24:5, 7, 31 | Pembagian dua puluh empat rombongan imam | |
| 1 Tawarikh 25:8 | Tugas penyanyi — “yang kecil maupun yang besar, pengajar maupun murid” | |
| 1 Tawarikh 26:13-16 | Pos penjaga pintu gerbang — “yang muda maupun yang tua” | |
| Nehemia 10:34 | Giliran keluarga mempersembahkan kayu bakar | |
| Lukas 1:9 | Zakharia kena undi membakar ukupan | |
| Pembagian tanah | Bilangan 26:52-56; 33:54; 34:13; 36:2 | Perintah membagi tanah Kanaan dengan undi |
| Yosua 14:2; 18:6, 8, 10; 19:51 | Pelaksanaannya — “di Silo, di hadapan TUHAN” | |
| Yosua 21:4-8 | Kota-kota orang Lewi | |
| Pembagian beban | Nehemia 11:1-2 | Satu dari sepuluh orang harus pindah ke Yerusalem yang masih berpuing |
| Penyaringan & keputusan | Yosua 7:14-18 | Akhan disaring bertingkat; pengakuan dan bukti tetap diperlukan |
| Hakim-hakim 20:9 | Menentukan siapa maju lebih dahulu melawan Gibea | |
| 1 Samuel 10:20-21 | Saul ditunjuk di hadapan bangsa — pengesahan publik atas pengurapan 10:1 | |
| 1 Samuel 14:40-45 | Yonatan kena undi — tetapi rakyat menolak hasilnya; berakhir sebagai peringatan | |
| Amsal 18:18 | Undi mengakhiri pertengkaran antara orang-orang berkuasa | |
| Kisah 1:15-26 | Matias dipilih — pemakaian undi terakhir dalam Perjanjian Baru | |
| Di tangan orang luar | Yunus 1:7 | Awak kapal kafir membuang undi; TUHAN tetap berdaulat atasnya |
| Ester 3:7; 9:24-26 | Haman membuang pur; hasilnya justru memberi waktu bagi orang Yahudi | |
| Yehezkiel 21:21-22 | Raja Babel: anak panah, terafim, hati binatang — ini ilmu ramal | |
| Yoel 3:3; Obaja 11; Nahum 3:10 | Musuh membuang undi atas tawanan perang | |
| Pada salib | Mazmur 22:19 | Nubuat: “membuang undi atas jubahku” |
| Mat. 27:35; Mrk. 15:24; Luk. 23:34; Yoh. 19:23-24 | Penggenapannya oleh serdadu Romawi | |
| Gambaran teologis | Mazmur 16:5-6 | “Engkaulah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku” |
| Daniel 12:13 | “Engkau akan bangkit untuk mendapat bagianmu” pada kesudahan zaman | |
| Kol. 1:12; 1Ptr. 5:3; Kis. 8:21; 26:18 | klēros sebagai bagian dalam pelayanan dan warisan orang kudus | |
| Nas pembatas | Ulangan 18:9-14 | Larangan keras atas segala bentuk tenung dan peraduan nasib |
| Imamat 19:26, 31; 20:6 | Larangan meramal dan mencari arwah |
Dua ekor kambing berdiri sama-sama memenuhi syarat; tidak ada kriteria manusiawi yang dapat memisahkannya. Imam Besar membuang undi. Yang menggetarkan: pada hari paling kudus dalam kalender Israel, pada tindakan yang paling menentukan bagi pendamaian seluruh bangsa, keputusan itu diserahkan kepada undi — bukan karena perkaranya remeh, melainkan karena Israel percaya bahwa tangan yang mengarahkan undi adalah tangan yang sama yang mengadakan pendamaian.
Inilah pemakaian undi yang paling luas dalam Alkitab: tujuh pasal penuh. Mengapa Allah memerintahkan cara ini? Kalau pembagian diserahkan kepada musyawarah para pemimpin, suku yang kuat akan mendapat lembah yang subur dan suku yang lemah mendapat lereng berbatu. Dengan undi, tidak ada yang dapat berkata “ini kudapat karena aku kuat”, dan tidak ada yang dapat berkata “aku dirugikan karena aku lemah”. Dasarnya disebut dalam Imamat 25:23: “tanah itu adalah milik-Ku”.
Perhatikan pula Bilangan 26:52-56, yang menggabungkan undi dengan perhitungan rasional: luas bagian ditentukan menurut jumlah jiwa, letaknya ditentukan dengan undi. Hikmat dan undi bekerja bersama, bukan saling menggantikan. Ini pola yang sangat penting bagi penyusunan tahapan keputusan.
Penyaringan Akhan berlangsung bertingkat: suku, kaum, keluarga, orang. Tetapi sesudah undi jatuh, Yosua masih berkata: “Anakku, hormatilah TUHAN... beritahukanlah kepadaku apa yang kauperbuat” (ay. 19). Akhan mengaku dengan mulutnya sendiri, dan barang bukti ditemukan di kemahnya. Undi mempersempit; pengakuan dan bukti yang memutuskan. Nas ini menutup pintu bagi segala gagasan memakai undi sebagai alat pembuktian kesalahan.
Saul sudah diurapi secara pribadi di 10:1. Jadi undi tidak sedang memberitahu Allah apa yang harus Ia putuskan; undi sedang mengumumkan di hadapan bangsa apa yang sudah Allah tetapkan — fungsinya pengesahan publik, bukan pencarian.
Sebaliknya 1 Samuel 14 berakhir sebagai peringatan. Undi memang jatuh pada Yonatan — tetapi sumpah Saul gegabah sejak awal, dan rakyat menolak hasilnya: “Masakan Yonatan harus mati, dia yang telah mendapat kemenangan besar ini?” (ay. 45). Teks membiarkan kita melihat bahwa undi yang benar dapat dipakai menopang keputusan yang salah, apabila kerangka yang melingkupinya memang sudah keliru.
Kalimat berulang “baik yang kecil maupun yang besar, baik pengajar maupun murid” (1Taw. 25:8) dan “baik yang muda maupun yang tua” (26:13) bukan hiasan. Ia menyatakan maksudnya dengan terang: undi meniadakan senioritas sebagai alat perebutan. Dan Nehemia 11:1 adalah yang paling tajam — undi dipakai untuk menentukan siapa yang harus pindah ke Yerusalem yang masih berpuing dan berbahaya. Undi di sini tidak membagi hadiah, melainkan membagi beban. Jemaat yang hanya mau mengundi jabatan tetapi tidak mau mengundi tugas yang menyusahkan belum memahami nas ini.
“Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari TUHAN.”
Amsal 16:33
Ayat ini menyatakan dua hal sekaligus. Tentang kedaulatan: tidak ada wilayah “kebetulan” yang lepas dari pemerintahan Allah, sampai kepada sebutir kerikil yang jatuh. Tentang pembatasan — dan ini yang paling sering dilewatkan: ayat ini tidak berbunyi “buanglah undi, maka engkau akan mengetahui kehendak TUHAN”. Ia adalah pernyataan tentang Allah, bukan anjuran metode. Kalimat ini meneguhkan hati orang yang hasil undinya tidak seperti harapannya; ia tidak sedang menganjurkan supaya kita mengocok undi untuk setiap perkara. Membacanya sebagai izin untuk mengundi apa saja adalah pembalikan arah yang halus tetapi serius.
“Undi mengakhiri pertengkaran, dan menyelesaikan perkara antara orang-orang berkuasa.”
Amsal 18:18
Perhatikan dua kata terakhir: *antara orang-orang berkuasa*. Ketika dua pihak sama-sama kuat, sama-sama punya argumen, dan sama-sama tidak mau mengalah, musyawarah dapat berjalan tanpa ujung sampai persekutuan rusak. Undi memutus simpul itu — bukan karena ia lebih bijak, melainkan karena ia tidak memihak siapa pun dan tidak dapat dituduh memihak.
Kedua nas ini sering dikutip secara ceroboh untuk membenarkan undi. Yang membuang undi dalam Yunus 1 adalah awak kapal kafir, masing-masing berseru kepada allahnya sendiri — dan undi itu tepat sasaran. Maksud penulis bukan mengesahkan undi kafir, melainkan menunjukkan dengan ironi pedas bahwa TUHAN berdaulat bahkan atas undi orang yang tidak mengenal Dia, sementara nabi-Nya tidur di ruang bawah kapal. Demikian pula *pur* Haman justru memberi orang Yahudi waktu hampir setahun penuh untuk berbalik keadaan. Keduanya menyatakan kedaulatan Allah, bukan kesahihan metode.
Inilah nas yang paling menentukan bagi penerapan praktis, dan ia harus dibaca menurut urutannya:
Undi tidak menggantikan satu pun langkah sebelumnya. Ia datang paling akhir — sesudah firman, syarat, seleksi, dan doa — dan hanya untuk memilih di antara dua orang yang sama-sama layak.
Perlu dicatat pula: Lukas mencatat ini tanpa satu pun kalimat celaan, dan di pasal berikutnya menulis “Petrus berdiri dengan kesebelas rasul” (Kis. 2:14) — dua belas lengkap. Dan ini adalah penyebutan undi yang terakhir dalam seluruh Perjanjian Baru.
Dari seluruh telaah di atas, enam kaidah dapat dirumuskan. Keenamnya berlaku serentak; mengambil satu dan mengabaikan yang lain selalu menghasilkan penyimpangan.
Kisah 1:26 adalah penyebutan undi yang terakhir dalam Perjanjian Baru. Sesudah itu, dalam tiga puluh tahun sejarah gereja yang dicatat Lukas — dengan segala keputusan besar tentang misi, kepemimpinan, konflik doktrin, dan arah perjalanan — undi tidak pernah muncul lagi. Yang menggantikannya dapat dilacak dengan jelas:
| Nas | Keputusan | Cara yang dipakai |
|---|---|---|
| Kisah 6:1-6 | Memilih tujuh pelayan | Syarat rohani ditetapkan rasul; jemaat yang memilih; rasul berdoa dan menumpangkan tangan |
| Kisah 11:1-18 | Menerima orang bukan Yahudi | Kesaksian, bukti karya Roh, musyawarah, firman |
| Kisah 13:1-3 | Mengutus Barnabas dan Saulus | Roh Kudus berfirman dalam ibadah dan puasa |
| Kisah 14:23 | Menetapkan penatua | Penunjukan disertai doa dan puasa |
| Kisah 15:1-29 | Syarat bagi jemaat non-Yahudi | Musyawarah terbuka, kesaksian, penafsiran firman — “keputusan Roh Kudus dan keputusan kami” (ay. 28) |
| Kisah 16:6-10 | Arah perjalanan misi | Pintu ditutup Roh, penglihatan, lalu penyimpulan bersama: “kami menarik kesimpulan” |
Empat alasan teologis menjelaskan pergeseran ini:
Satu catatan keseimbangan, supaya kesimpulan ini tidak ditarik terlalu jauh: Alkitab tidak pernah memuat larangan eksplisit terhadap undi. Yang kita hadapi bukan larangan, melainkan lintasan — pergeseran arah yang konsisten dari sarana lahiriah menuju pimpinan Roh di dalam persekutuan yang berhikmat. Membaca lintasan ini sebagai larangan mutlak akan melampaui teks; mengabaikannya sama sekali akan mengabaikan apa yang paling jelas dalam Kisah Para Rasul.
Bagian ini menyajikan peristiwa-peristiwa nyata dalam sejarah gereja, disusun menurut urutan zaman. Perhatikan bahwa sejarah gereja memperlihatkan dua arus yang berjalan bersamaan: arus yang memakai undi untuk pembagian dan penunjukan secara tertib, dan arus yang menolak keras pemakaian undi sebagai alat meramal. Keduanya perlu dilihat sekaligus.
Kisah 1:15-26 adalah titik tolak seluruh sejarah ini, dan menjadi nas yang dikutip oleh hampir setiap pihak yang kemudian memakai undi. Yang sering dilupakan oleh para pengutipnya adalah lima langkah yang mendahuluinya.
Ketika pasukan Vandal menyerbu Afrika Utara, Uskup Honoratus bertanya kepada Agustinus: ketika sebagian pelayan harus mengungsi dan sebagian harus tinggal menemani jemaat, siapa yang pergi dan siapa yang tinggal? Dalam Surat 228, Agustinus menjawab: apabila tidak ada alasan yang membedakan mereka — apabila semuanya sama-sama layak dan sama-sama bersedia — maka undi boleh dipakai, supaya tidak ada yang dapat dituduh mencari selamat dan tidak ada yang dipaksa oleh kekuasaan.
Catatan penting: ini adalah undi pembagi dalam keadaan darurat, di antara orang-orang yang semuanya sudah dinilai layak — persis pola Kisah 1 dan Nehemia 11.
Dalam Surat 55, Agustinus menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kebiasaan membuka Alkitab secara acak untuk mendapat petunjuk bagi urusan duniawi (*sortes biblicae*). Ia mengakui praktik itu lebih baik daripada pergi kepada roh-roh, tetapi tetap menilainya sebagai penyalahgunaan firman. Dua surat Agustinus ini menetapkan pola yang bertahan sampai hari ini: undi sebagai pembagian yang tidak memihak — boleh; undi sebagai teknik mencari pesan ilahi — tidak.
Justru karena praktik *sortes sanctorum* — membuka Alkitab atau kitab undian secara acak untuk meramal — menyebar luas di Gaul dan sekitarnya, serangkaian konsili lokal melarangnya secara tegas, khususnya bagi para klerus:
| Konsili | Perkiraan tahun | Isi ketetapan |
|---|---|---|
| Konsili Vannes | ± 465 | Melarang klerus memakai sortes sanctorum; pelanggarnya dikeluarkan dari persekutuan gereja |
| Konsili Agde | 506 | Mengulangi larangan atas sortes sanctorum |
| Konsili Orléans | 511 | Menegaskan kembali larangan tersebut |
| Konsili Auxerre | ± 578 | Melarang segala bentuk sortilegium di kalangan pelayan gereja |
Namun praktik itu tidak mati. Gregorius dari Tours (*Historia Francorum*) mencatat bahwa Raja Clovis menjelang pertempuran Vouillé (507) menyuruh utusannya membuka Kitab Mazmur di gereja Santo Martinus di Tours untuk mencari pertanda, dan menerima Mazmur 18:40 sebagai jawaban. Bahwa seorang raja Kristen melakukannya pada tahun yang sama dengan Konsili Agde menunjukkan betapa dalam praktik ini berakar — dan betapa perlunya larangan itu diulang-ulang.
Pelajaran untuk hari ini: yang dilarang gereja mula-mula bukanlah pengundian untuk membagi, melainkan pengundian untuk meramal. Garis ini sudah ditarik sejak abad kelima, dan belum pernah dicabut.
Thomas Aquinas (± 1270) memberi kerangka teologis yang paling jernih dalam *Summa Theologiae* II-II, soal 95, artikel 8 — tiga jenis undi yang akan diuraikan di Bagian III.
Secara kelembagaan, hukum gereja justru bergerak menjauh dari undi. Konsili Lateran IV (1215) menetapkan tiga bentuk pemilihan kanonik yang sah: *scrutinium* (pemungutan suara), *compromissum* (penyerahan kepada komisi kecil), dan *quasi per inspirationem* (aklamasi serempak). Undi tidak termasuk di dalamnya. Sampai hari ini, konklaf kepausan memakai pemungutan suara dua pertiga, bukan undi.
Menariknya, pada periode yang sama pemerintahan sipil justru mengembangkan pengundian secara canggih, dan dengan alasan yang sangat alkitabiah. Republik Venesia sejak 1268 memilih Doge melalui sepuluh tahap berselang-seling antara pengundian dan pemungutan suara, justru untuk mematahkan kekuasaan keluarga-keluarga besar. Firenze memakai *imborsazione* — pengundian nama dari kantong — untuk mengisi jabatan publik. Keduanya memakai undi persis untuk fungsi yang disebut Amsal 18:18: mengakhiri perebutan di antara orang-orang berkuasa.
Inilah arus yang paling konsisten memakai undi dalam pemilihan pelayan gereja, dan praktiknya masih hidup sampai hari ini. Dalam jemaat Amish dan sebagian Mennonit konservatif, pemilihan penatua atau pendeta berlangsung demikian:
Alasan teologisnya dinyatakan dengan terus terang: pelayanan adalah beban yang dipikul, bukan jabatan yang dikejar. Dengan undi, tidak ada kampanye, tidak ada perebutan, tidak ada keluarga yang dapat mengatur hasilnya. Komunitas Hutterit memakai cara yang serupa. Perhatikan bahwa polanya persis Kisah 1: undi berdiri di ujung sebuah proses penyaringan yang ketat, bukan menggantikannya.
Di bawah kepemimpinan Count Nikolaus von Zinzendorf, komunitas Moravia di Herrnhut mulai memakai undi secara luas sejak sekitar tahun 1727 — jauh lebih luas daripada komunitas Kristen mana pun sebelumnya. Undi dipakai untuk:
Pemakaian seluas ini akhirnya menimbulkan persoalan, baik dari dalam maupun dari luar. Secara bertahap gereja Moravia membatasinya — pemakaian undi untuk perkara pernikahan dihapuskan pada awal abad kesembilan belas, dan menjelang akhir abad itu pemakaian umumnya ditinggalkan. Perjalanan Moravia menjadi studi kasus yang sangat berharga: sebuah komunitas yang sungguh-sungguh saleh, yang memakai undi dengan motif murni, akhirnya menyimpulkan sendiri bahwa cara itu tidak dapat dipertahankan sebagai sistem pengambilan keputusan yang menyeluruh.
Karena bahan ini dipakai di lingkungan Methodist, bagian ini perlu disampaikan dengan jujur — termasuk bagian yang tidak nyaman.
John Wesley sendiri memakai undi, terutama pada tahun-tahun awal pelayanannya, di bawah pengaruh kuat saudara-saudara Moravia. Tiga peristiwa yang terdokumentasi:
| Tahun | Peristiwa | Keterangan |
|---|---|---|
| 1737 | Savannah, Georgia | Wesley memakai undi dalam pergumulan mengenai rencana pernikahannya dengan Sophy Hopkey; hasilnya mengarahkan agar rencana itu tidak dilanjutkan |
| 1739 | Khotbah “Free Grace” | Wesley memakai undi untuk memutuskan apakah akan menyampaikan dan mencetak khotbahnya melawan predestinasi; George Whitefield kemudian mengkritik cara ini secara terbuka |
| ± 1738–1740 | Perkumpulan Fetter Lane | Perkumpulan yang dipengaruhi Moravia ini memakai undi dalam sejumlah keputusan bersama |
| 1749 | Perkara Grace Murray | Wesley kembali memakai undi dalam perkara pribadi yang berat dan berujung menyakitkan |
Dua hal perlu dicatat dengan seimbang. Pertama, Wesley tidak memakainya sebagai permainan nasib. Ia memakainya sesudah doa panjang, puasa, dan nasihat saudara seiman, dalam perkara di mana ia merasa hatinya sendiri terlalu terlibat untuk dapat menilai dengan jernih. Motifnya adalah ketidakpercayaan pada diri sendiri, bukan kemalasan berpikir.
Kedua, praktik ini tidak menjadi warisan Metodisme. Metodisme yang matang justru berkembang ke arah yang berbeda sama sekali: conference — musyawarah bersama yang tertib — dan class meeting, kelompok kecil tempat orang saling mengenal cukup dalam sehingga kelayakan seseorang dapat dinilai dengan jujur. Wesley sendiri kemudian mengambil jarak dari pengaruh Moravia dalam banyak hal, dan sejarawan seperti Henry D. Rack mencatat bahwa pemakaian undi oleh Wesley adalah ciri satu babak tertentu dalam hidupnya, bukan asas yang ia ajarkan kepada umat.
Bagi gereja Methodist hari ini, warisan yang sesungguhnya bukanlah undi, melainkan conference dan class meeting — yakni musyawarah yang tertib dan pengenalan pribadi yang mendalam. Keduanya justru merupakan prasyarat yang membuat undi jarang diperlukan.
Pada tahun 1917, di tengah keruntuhan kekaisaran Rusia, Konsili Seluruh Rusia di Moskow memulihkan jabatan Patriark yang telah kosong selama lebih dari dua ratus tahun. Prosesnya berlangsung dua tahap. Tahap pertama adalah pemungutan suara oleh para anggota konsili, yang menghasilkan tiga nama. Tahap kedua adalah undi: ketiga nama ditempatkan dalam sebuah wadah di hadapan ikon Bunda Allah dari Vladimir, dan seorang rahib tua menarik satu nama sesudah ibadah doa. Yang keluar adalah Tikhon, Metropolitan Moskow — yang justru memperoleh suara paling sedikit di antara ketiganya.
Peristiwa ini menjadi salah satu contoh paling jelas dalam sejarah modern tentang perpaduan pemungutan suara dan undi: penilaian manusia menyaring sampai tiga calon yang semuanya layak, lalu keputusan akhir diserahkan. Tikhon kemudian memimpin gereja melalui tahun-tahun penganiayaan yang paling berat.
Gereja Ortodoks Koptik di Mesir memakai apa yang disebut undi altar (*al-qurʿa al-haykaliyya*) untuk memilih Paus Aleksandria, dan praktik ini masih berlaku sampai sekarang. Prosesnya:
Cara ini dipakai dalam pemilihan Paus Tawadros II pada November 2012. Alasan yang dikemukakan gereja Koptik sama persis dengan alasan Kisah 1 dan Amish: sesudah manusia melakukan seluruh penilaian yang dapat ia lakukan, pilihan akhir di antara calon-calon yang sama-sama layak diserahkan kepada Allah — dan dengan demikian tidak ada kelompok mana pun yang dapat mengklaim bahwa Paus terpilih adalah “orangnya”.
| Zaman / pihak | Dipakai untuk apa | Posisi undi dalam proses |
|---|---|---|
| Kisah 1 (± 33 M) | Memilih rasul pengganti | Paling akhir — sesudah firman, syarat, seleksi, doa |
| Agustinus, Surat 228 (± 428) | Siapa mengungsi, siapa tinggal | Hanya ketika tidak ada alasan yang membedakan |
| Konsili Vannes–Auxerre (465–578) | — | Melarang undi ramalan (sortes sanctorum) |
| Lateran IV (1215) | Pemilihan jabatan gereja | Undi ditinggalkan; diganti scrutinium dan compromissum |
| Venesia (1268 dst.), Firenze | Jabatan publik (sipil) | Berselang-seling dengan pemungutan suara, untuk mematahkan faksi |
| Amish, Mennonit, Hutterit (abad XVI–kini) | Memilih pendeta/penatua | Paling akhir — sesudah pencalonan dan penilaian jemaat |
| Moravia, Herrnhut (1727 dst.) | Misi, keanggotaan, pernikahan | Dipakai sangat luas; kemudian dibatasi dan ditinggalkan |
| John Wesley (1737–1749) | Keputusan pribadi yang berat | Sesudah doa dan puasa; tidak diwariskan ke Metodisme |
| Ortodoks Rusia (1917) | Memilih Patriark | Sesudah pemungutan suara menyaring tiga calon |
| Ortodoks Koptik (sampai kini) | Memilih Paus Aleksandria | Sesudah pemungutan suara menyaring tiga calon |
Satu pola muncul tanpa kecuali dalam setiap pemakaian yang bertahan: undi selalu berdiri di UJUNG sebuah proses penilaian yang ketat, tidak pernah menggantikannya. Setiap kali undi dipakai untuk memotong proses — atau untuk meramal — gereja menolaknya, atau komunitas itu sendiri akhirnya meninggalkannya.
Sudah diuraikan dalam Bagian II. Rumusan intinya: undi sebagai pembagian yang tidak memihak dapat dibenarkan dalam keadaan di mana tidak ada alasan yang membedakan pihak-pihak yang sama-sama layak (Surat 228); undi sebagai teknik mencari pesan ilahi — termasuk membuka Alkitab secara acak — ditolak (Surat 55).
Sumbangan paling tajam dan paling berguna secara praktis datang dari Thomas Aquinas, dalam *Summa Theologiae* II-II, soal 95, artikel 8 (*De sortibus*). Pembedaan tiga lapis ini masih menjadi kerangka standar dalam etika Kristen sampai sekarang, dan dapat dipakai langsung sebagai alat uji dalam rapat.
| Jenis | Dipakai untuk | Penilaian Aquinas |
|---|---|---|
| Sors divisoria (undi pembagi) | Membagi sesuatu di antara pihak yang sama haknya: warisan, tanah, giliran tugas | Pada dasarnya sah. Tidak ada yang sedang ditanyakan kepada Allah; yang dicari hanyalah cara yang tidak memihak |
| Sors consultoria (undi penentu tindakan) | Memutuskan apa yang harus dilakukan atau siapa yang harus ditunjuk | Sebaiknya dihindari, kecuali dalam keadaan mendesak tanpa jalan lain, dan itu pun dengan doa serta kerendahan hati |
| Sors divinatoria (undi peramal) | Mengetahui hal tersembunyi atau masa depan | Terlarang. Ini sudah menjadi tenung, apa pun bungkus rohaninya |
Yohanes Calvin membahas Amsal 16:33 dalam *Institutio* I.16.6, dalam uraiannya tentang penyelenggaraan Allah. Baginya ayat itu membuktikan bahwa tidak ada yang sungguh-sungguh “kebetulan”: apa yang kita sebut nasib hanyalah nama bagi sebab-sebab yang tidak kita lihat. Namun Calvin sekaligus memperingatkan agar orang percaya tidak menjadikan kedaulatan Allah sebagai alasan untuk mencobai Dia dengan mengundi hal-hal yang seharusnya diputuskan dengan hikmat dan tanggung jawab. Dalam komentarnya atas Kisah 1, Calvin membela tindakan para rasul — mereka berada dalam masa peralihan, bertindak sesudah berdoa, dan memilih di antara dua calon yang sudah disaring — tetapi menambahkan bahwa cara ini bersifat luar biasa dan tidak dimaksudkan menjadi aturan tetap bagi gereja.
Martin Luther menempatkan pokok ini di bawah perintah pertama: segala sesuatu yang dipakai untuk memaksa kepastian ilahi di luar firman adalah bentuk halus dari ketidakpercayaan. Orang percaya hidup dari janji yang sudah diucapkan, bukan dari tanda yang dicari-cari.
Kelompok karya ini langsung menyentuh pertanyaan yang biasanya melatarbelakangi minat orang terhadap undi: *bagaimana saya tahu kehendak Tuhan?*
Bagian ini sering terlewat, padahal sangat berguna untuk membela pemakaian undi yang sah. Sejumlah ahli filsafat politik dan teori keputusan justru menunjukkan bahwa pengundian memiliki keunggulan moral yang nyata dalam keadaan tertentu — dan alasan mereka sejalan dengan Amsal 18:18.
Konvergensi ini patut diperhatikan: ahli Alkitab dan ahli teori keputusan sampai pada kesimpulan yang sama dari arah yang berlawanan — undi paling tepat dipakai justru ketika alasan-alasan sudah habis dan semua pilihan sama-sama layak, dan paling berbahaya ketika dipakai untuk menggantikan alasan yang sebenarnya masih bisa dicari.
| Pendapat | Pendukung utama | Rumusan inti |
|---|---|---|
| Undi sebagai pembagi — sah | Agustinus, Aquinas (divisoria), Stone, Elster, Goodwin | Boleh, bahkan lebih adil, ketika semua pilihan sama-sama layak dan alasan sudah habis |
| Undi sebagai penentu orang — bersyarat | Kisah 1, Calvin, tradisi Amish/Mennonit/Koptik | Hanya di ujung proses penyaringan yang ketat, dengan doa dan kesediaan menerima hasil |
| Undi sebagai peramal — terlarang | Agustinus, Konsili Vannes–Auxerre, Aquinas (divinatoria), Luther | Ini tenung; tidak dibenarkan oleh motif atau bungkus rohani apa pun |
| Sesudah Pentakosta ada cara yang lebih baik | Bruce, Marshall, Stott, Bock | Roh, firman, hikmat, dan musyawarah jemaat — bukan undi |
| Pencarian tanda sering kali pola pikir kafir | Waltke, Friesen, DeYoung, Packer | Kehendak Allah dikenali lewat firman dan hikmat yang bertanggung jawab, bukan teknik |
Bagian ini menerjemahkan seluruh bahan di atas menjadi perangkat yang dapat langsung dipakai dalam rapat majelis, musyawarah jemaat, atau pengambilan keputusan komunitas.
Untuk keputusan di mana semua pilihan sama-sama sah secara moral dan rohani, dan yang dicari hanyalah cara yang tidak memihak:
Dalam hal-hal ini, undi tidak sedang menanyakan apa pun kepada Allah. Ia sedang melakukan keadilan prosedural, dan Alkitab justru memujinya.
Memilih orang untuk jabatan atau pelayanan adalah wilayah yang jauh lebih peka. Kisah 1 memberi izinnya, beserta seluruh syaratnya — dan syarat itulah yang paling sering diabaikan. Kelima langkah berikut harus sudah dijalankan lebih dahulu:
Apabila salah satu dari lima langkah ini dilewati, undi berubah fungsi — dari penyerahan menjadi pelarian. Undi yang dipakai untuk menghindari percakapan yang sulit, untuk menutupi bahwa pembinaan kader tidak pernah dijalankan, atau supaya pengurus tidak perlu menanggung akibat sebuah keputusan, bukanlah praktik Kisah 1.
Bagan berikut merangkum di mana undi boleh berdiri. Perhatikan bahwa ia selalu menjadi tahap terakhir, dan hanya aktif apabila tahap sebelumnya benar-benar buntu.
| Tahap | Kegiatan | Dasar |
|---|---|---|
| 1. Mendengar firman | Memeriksa apakah Alkitab sudah memutuskan perkara ini. Jika ya, berhenti di sini — tidak ada yang perlu diundi | Kis. 1:16, 20; Ul. 18:9-14 |
| 2. Menetapkan syarat | Merumuskan kriteria secara terbuka, sebelum nama atau pilihan muncul | Kis. 1:21-22; 6:3; 1Tim. 3 |
| 3. Mengumpulkan keterangan | Fakta, data, kesaksian, pengalaman, pertimbangan akal budi | Kis. 15:12; Rm. 12:2 |
| 4. Bermusyawarah | Mendengar semua pihak, termasuk yang jarang bersuara; mencari titik temu | Kis. 15:6-21 |
| 5. Menyaring | Menilai kelayakan; menyisakan pilihan yang semuanya sah | Kis. 1:23; 6:5 |
| 6. Berdoa | Menyerahkan hasil, dengan kesediaan menerima apa pun | Kis. 1:24-25; 14:23 |
| 7. Memutuskan | Mufakat atau pemungutan suara. Undi hanya dipakai jika tahap ini buntu dan semua pilihan setara | Kis. 15:28; Ams. 18:18 |
Tujuh pertanyaan berikut sebaiknya dijawab lebih dahulu, dan semuanya harus terjawab “ya”. Satu jawaban “tidak” sudah cukup menjadi alasan untuk menunda dan menempuh jalan lain.
Pertanyaan ini pasti muncul, dan jawabannya tidak rumit. Perbedaannya terletak pada lima hal:
| Aspek | Undi alkitabiah | Judi |
|---|---|---|
| Yang dipertaruhkan | Tidak ada; tidak ada yang kehilangan harta | Harta dipertaruhkan atas hasil yang tidak pasti |
| Tujuannya | Membagi dengan adil, menyelesaikan sengketa | Memperoleh keuntungan dari kerugian orang lain |
| Sikap terhadap hasil | Diterima sekali, sebagai dari TUHAN | Diulang terus; kekalahan mendorong taruhan berikutnya |
| Akibat pada sesama | Semua pihak diperlakukan setara | Menang berarti ada yang kalah |
| Akibat pada diri | Menundukkan kehendak sendiri | Membangkitkan keserakahan dan ketagihan |
Undian berhadiah, arisan, dan segala bentuk pengumpulan dana yang bergantung pada iming-iming hadiah perlu diuji dengan tabel ini — khususnya baris pertama dan keempat. Sebuah “undian amal” yang mengharuskan orang membeli kupon dengan harapan menang pada hakikatnya adalah pertaruhan, betapapun baik tujuan penggunaan dananya.
Pertama, kebiasaan mengundi sudah akrab dalam budaya kita — arisan, undian giliran, pengundian dalam pembagian warisan atau tanah adat. Kedekatan ini adalah berkat sekaligus bahaya. Berkat, karena jemaat tidak akan merasa asing dengan gagasannya. Bahaya, karena undi dapat masuk ke dalam gereja tanpa melewati pemeriksaan teologis — sekadar karena “sudah biasa begitu”.
Kedua, periksalah Tata Gereja terlebih dahulu. Sebelum sebuah jemaat atau majelis memakai undi untuk pemilihan atau penempatan, peraturan sinode perlu diperiksa: apakah cara itu diatur, dibolehkan, atau justru tidak dikenal. Kesesuaian dengan tata gereja adalah bagian dari ketertiban yang diperintahkan 1 Korintus 14:40.
Ketiga, kekuatan tradisi Methodist justru ada di tempat lain. Metodisme dibangun di atas *conference* — musyawarah bersama yang tertib — dan *class meeting*, kelompok kecil tempat orang saling mengenal cukup dalam sehingga kelayakan seseorang dapat dinilai dengan jujur. Inilah yang sepatutnya dipakai lebih dahulu. Jemaat yang pembinaan kadernya berjalan jarang kekurangan calon yang layak, dan jarang membutuhkan undi.
Keempat, satu peringatan pastoral. Undi dapat mengakhiri sengketa prosedural, tetapi tidak dapat menyembuhkan luka relasi. Jemaat yang memakai undi untuk “menyelesaikan” perselisihan antara dua keluarga hanya memindahkan bara ke bawah abu. Matius 18:15-20 tetap jalan yang Tuhan tetapkan untuk itu. Undi membagi; hanya pengampunan yang memulihkan.
Tentang Allah. Amsal 16:33 berdiri sebagai pusat seluruh pokok ini: undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari TUHAN. Tidak ada wilayah “kebetulan” dalam dunia yang diperintah Allah — berlaku atas undi Yosua di Silo, atas undi pelaut kafir di tengah badai, atas pur Haman di istana Susan, dan atas undi serdadu Romawi di kaki salib.
Tentang undi. Dalam Alkitab, undi tidak pernah menjadi alat untuk memaksa Allah berbicara. Ia adalah cara yang tidak memihak untuk membagi apa yang memang harus dibagi — dipakai di hadapan TUHAN, dalam kerangka firman dan ibadah, dan hanya di tempat hikmat kehabisan pijakan. Sejarah gereja selama dua puluh abad menegaskan hal yang sama: setiap pemakaian yang bertahan selalu menempatkan undi di ujung sebuah proses penilaian yang ketat, tidak pernah menggantikannya.
Tentang kita. Sesudah Roh Kudus dicurahkan, umat Allah tidak lagi mengocok undi untuk mengenal kehendak-Nya. Kita memiliki firman yang lengkap, Roh yang diam di dalam kita, dan persekutuan yang dapat menegur serta menguatkan. Kisah 15:28 — “keputusan Roh Kudus dan keputusan kami” — adalah rumusan Perjanjian Baru tentang pengambilan keputusan, dan rumusan itu memuat keduanya: Roh yang memimpin, dan manusia yang bertanggung jawab.
Gereja dan komunitas Kristen hari ini boleh memakai undi untuk membagi, tidak untuk mencari tahu; sesudah hikmat dijalankan sampai batasnya, bukan sebagai jalan pintas untuk menghindarinya.
“Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.”
Mazmur 16:5-6
Pemazmur tidak sedang memegang kerikil. Ia sedang memandang hidupnya, dan berkata: bagianku sudah ditetapkan, dan yang menetapkannya adalah TUHAN sendiri. Itulah sebabnya orang percaya tidak perlu mengocok undi untuk memastikan hidupnya aman di tangan Allah. Bukti terakhirnya terbaring di kaki salib: di sana undi dibuang oleh tangan yang tidak mengenal Allah, atas jubah Anak Allah — dan justru di situ rencana keselamatan digenapi persis seperti yang telah dituliskan seribu tahun sebelumnya.
Catatan Penting :
Tulisan ini dibuat Kristi Wilson Sinurat dengan bantuan Kecerdasan Buatan (AI), belum sempurna dan masih ada kemungkinan kesalahan.