20 Agu 2026Renungan2 menit baca
“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” — 1 Yohanes 4:7
Surat 1 Yohanes ditulis untuk meneguhkan orang percaya agar tetap hidup dalam kebenaran, kasih, dan persekutuan dengan Allah. Yohanes menekankan bahwa iman yang sejati harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari — bukan sekadar diyakini dalam hati, melainkan dinyatakan dalam cara kita memperlakukan sesama.
Dalam pasal 4, Yohanes menegaskan sebuah alur yang sederhana namun mendalam: Allah adalah sumber kasih. Orang yang berasal dari Allah dipanggil untuk mengasihi. Dan kasih itu sendiri menjadi bukti bahwa seseorang benar-benar mengenal Allah. Kasih Kristen bukan hanya mengatakan “saya mengasihi Tuhan”, tetapi harus terlihat nyata dalam hubungan dengan sesama.
Yohanes memulai ajakannya dengan panggilan penuh kelembutan, bukan perintah yang keras. Kasih dimulai dari cara kita memandang orang lain — sebagai saudara yang harus dihargai, bukan sebagai orang asing yang harus diwaspadai.
Mulailah melihat orang lain dengan kasih, bukan hanya berdasarkan kesalahan atau kelemahannya.
Kata “marilah” adalah ajakan untuk bertindak. Kasih bukan hanya dirasakan, tetapi harus dilakukan — dan kasih menjadi nyata ketika kita mendengar, memahami, mengampuni, menolong, menghargai, memberi waktu, dan bersedia berkorban bagi orang lain.
Cinta itu tumbuh dan dipelihara — bukan sesuatu yang selesai sekali diucapkan, melainkan sesuatu yang dirawat setiap hari lewat tindakan-tindakan kecil itu.
Allah adalah sumber kasih, dan kasih Allah mengajar kita untuk tetap mengasihi dalam segala keadaan — bahkan ketika kita berbeda pendapat, kecewa, disakiti, mendapati kelemahan orang lain, atau ketika hubungan sedang bermasalah.
Kasih bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi memperlakukan manusia dengan martabat dan kasih Allah — memisahkan orangnya dari kesalahannya.
Mengenal Allah harus menghasilkan perubahan dalam cara kita memperlakukan orang lain. Iman yang benar tidak berhenti di dalam hati; iman menghasilkan kasih yang nyata dalam kehidupan. Inilah buah iman yang sesungguhnya: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama, yang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lain.
Kasih adalah tanda bahwa kita benar-benar mengenal Allah. Kasih yang dirawat setiap hari itulah yang menumbuhkan keluarga yang rukun, gereja yang bersatu, masyarakat yang saling peduli, dan bangsa yang penuh kasih serta damai.
Mari kita memelihara kasih setiap hari, agar kita bertumbuh menjadi berkat bagi keluarga, gereja, masyarakat, dan bangsa Indonesia.