Matius 6:25–34
Hidup ugahari di tengah budaya berlebih — kecukupan sebagai bentuk kepercayaan
Prapaskah

Kutipan Alkitab: Terjemahan Baru (TB) LAI, kecuali disebutkan lain
“Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” — Matius 6:34b
Ada dua cara membaca Matius 6:25–34 yang sama-sama meleset, dan keduanya sangat populer.
Yang pertama membacanya sebagai puisi penenang. Burung-burung, bunga bakung, langit yang biru — sebuah lagu yang indah untuk menenangkan hati yang gelisah, tanpa tuntutan apa pun terhadap dompet, kalender, dan pola konsumsi kita. Pembacaan ini membuat teks menjadi hangat tetapi tidak berbahaya. Ia melewatkan kenyataan bahwa perikop ini berdiri persis sesudah kalimat paling konfrontatif dalam seluruh Khotbah di Bukit tentang harta: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24).
Yang kedua membacanya sebagai rumus keberhasilan. Ayat 33 dipenggal dari tubuhnya dan diubah menjadi mekanisme transaksi: carilah Tuhan lebih dahulu, maka rezeki akan mengalir. Pembacaan ini membuat teks menjadi menjanjikan tetapi tidak jujur — sebab ia harus mengabaikan ayat 30, di mana rumput yang didandani Allah tetap dibuang ke dalam api besok pagi, dan mengabaikan Yesus sendiri, yang pada akhirnya mati tanpa pakaian di kayu salib.
Kajian ini mencoba jalan ketiga: membaca Matius 6:25–34 sebagai ajaran tentang cara memandang masa depan — dan karena itu, sebagai ajaran tentang cara memandang Allah. Yesus tidak sedang menghibur orang cemas; Ia sedang membongkar gambaran tentang Allah yang tersembunyi di balik kecemasan. Dan jalan keluar yang Ia tawarkan bukanlah kelimpahan, melainkan kecukupan: satu hari, dengan jatah dan kesukarannya sendiri, di tangan seorang Bapa yang tahu.
Dalam bahasa Indonesia, sikap hidup itu punya nama yang bagus dan hampir terlupakan: ugahari. Bagian akhir kajian ini akan menunjukkan mengapa kata itu, bukan “sederhana” atau “hemat”, yang paling tepat menangkap apa yang sedang diminta Yesus.
Terjemahan Baru (LAI). Penomoran ayat dipertahankan untuk memudahkan rujukan.
25 Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.
Matius 6:25–34 bukan renungan lepas. Ia adalah bagian penutup dari satu blok pengajaran yang utuh, Matius 6:19–34, yang seluruhnya membahas satu tema: hubungan murid dengan harta benda. Blok itu tersusun dalam empat gerakan:
Kata sambung itu menentukan segalanya. Kekuatiran dibicarakan sebagai akibat langsung dari persoalan dua tuan. Yesus tidak berpindah topik dari uang ke perasaan; Ia sedang menunjukkan bagaimana Mamon sebenarnya memerintah orang yang secara resmi mengaku melayani Allah. Mamon jarang meminta kita menyangkal Allah secara terbuka. Ia cukup meminta kita mengurus masa depan seolah-olah Allah tidak ada di dalamnya. Nama sikap itu adalah kekuatiran.
Dengan kata lain: kekuatiran adalah liturgi Mamon. Ia adalah cara kita menyembah tanpa menyadarinya.
Ini bagian yang paling sering dilewatkan, dan yang paling mengubah pembacaan.
Pendengar pertama Yesus di Galilea abad pertama sebagian besar adalah petani kecil, penggarap tanah orang lain, buruh harian, nelayan, dan pengrajin desa. Ekonomi mereka adalah ekonomi subsisten: hasil satu musim menentukan apakah keluarga bertahan sampai musim berikutnya. Beban kewajiban bertumpuk — pajak dan upeti kepada Roma, pungutan penguasa wilayah Herodes Antipas, serta persembahan dan persepuluhan bagi Bait Allah. Para sejarawan berbeda pendapat tentang persentase pastinya, tetapi sepakat bahwa beban gabungan itu berat, dan bahwa utang, gagal panen, serta penyitaan tanah adalah kenyataan sehari-hari.
Buruh harian — sosok yang muncul dalam perumpamaan Yesus sendiri (Mat. 20:1–16) — dibayar per hari, dan upah sehari kira-kira cukup untuk makan sehari. Bagi mereka, “hari ini” bukan kiasan rohani. Itu adalah horizon ekonomi yang nyata dan tunggal.
Maka perhatikan apa yang tidak dikuatirkan dalam teks ini. Tidak ada kekuatiran tentang rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih baru, atau liburan. Daftarnya hanya tiga: makan, minum, pakaian. Ini bukan kekuatiran gaya hidup; ini kekuatiran bertahan hidup.
Dua akibat penting mengalir dari kenyataan ini:
Ajaran yang sama muncul dalam Lukas, dengan penempatan dan penekanan yang berbeda — dan perbedaan itu saling melengkapi.
| Aspek | Matius 6:25–34 | Lukas 12:22–34 |
|---|---|---|
| Konteks sebelumnya | Khotbah di Bukit; sesudah “dua tuan” (6:24) | Sesudah perumpamaan orang kaya yang bodoh, yang membangun lumbung lebih besar (12:13–21) |
| Sasaran kritik | Pengabdian yang terbelah antara Allah dan Mamon | Penimbunan sebagai jaminan masa depan |
| Rumusan puncak | “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” (6:33) | “Carilah Kerajaan-Nya” (12:31), disusul perintah konkret: “Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah” (12:33) |
| Penutup | Peribahasa hikmat tentang hari esok (6:34) — khas Matius, tidak ada dalam Lukas | “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (12:34) |
Dua catatan dari perbandingan ini. Pertama, tambahan Matius “dan kebenarannya” (dikaiosynē) mencegah ayat 33 menjadi spiritualitas batin semata; kita akan melihat bahwa dalam Matius kata itu berarti kehidupan yang benar dan adil sesuai kehendak Allah. Kedua, Lukas memperlihatkan penerapan sosial yang eksplisit — melepaskan, bukan sekadar tidak cemas. Matius menahannya dalam bentuk peribahasa; Lukas mengubahnya menjadi tindakan. Keduanya perlu dibaca bersama agar “kecukupan” tidak berhenti sebagai suasana hati.
Perikop ini tersusun rapi. Perintah “jangan kuatir” (mē merimnate) muncul tiga kali — pada ayat 25, 31, dan 34 — dan berfungsi sebagai penanda sendi. Di antara ketiganya, Yesus menyisipkan argumen-argumen yang bergerak dari alam, ke akal sehat, lalu ke identitas, dan akhirnya ke prioritas.
| Ayat | Unsur | Isi dan cara kerja argumennya |
|---|---|---|
| 25 | Perintah pokok (I) | “Janganlah kuatir akan hidupmu.” Diikuti argumen dari yang lebih besar ke yang lebih kecil: jika Allah memberi hidup (yang besar), Ia tidak akan menahan makanan (yang kecil). |
| 26 | Bukti alam A — makanan | Burung. Bukan teladan kemalasan, melainkan bukti pemeliharaan. Puncaknya bukan pada burung, tetapi pada sebutan “Bapamu”. |
| 27 | Argumen kesia-siaan | Kekuatiran tidak menambah sehasta pun pada jalan hidup. Ia mahal tetapi tidak produktif. |
| 28–30 | Bukti alam B — pakaian | Bunga bakung dan rumput. Argumen dari yang fana ke yang kekal, ditutup dengan diagnosis: “hai orang yang kurang percaya”. |
| 31–32 | Perintah pokok (II) | Pengulangan larangan, kali ini dengan argumen identitas: begitulah cara hidup orang yang tidak mengenal Allah — sedangkan kamu punya Bapa yang tahu. |
| 33 | Puncak positif | Bukan sekadar “berhentilah kuatir”, melainkan “carilah dahulu”. Kekuatiran tidak diusir dengan kekosongan, melainkan digantikan dengan orientasi baru. |
| 34 | Perintah pokok (III) + peribahasa | Penutup realistis: hari esok punya jatahnya sendiri; hari ini punya jatahnya sendiri. Batas waktu sebagai anugerah. |
Perhatikan gerak keseluruhannya: dari larangan (25) menuju penggantian (33) lalu menuju penakaran waktu (34). Perikop ini tidak berhenti pada nasihat negatif. Ia memberi sesuatu untuk dikejar, lalu memberi ukuran waktu yang manusiawi untuk menjalaninya.
Ayat 34 sering terasa seperti tempelan — nadanya lebih mirip peribahasa hikmat (bandingkan Amsal atau tradisi rabinik) daripada ajaran Yesus yang lain, dan ia tidak ada dalam Lukas. Sejumlah penafsir menduga Matius menambahkannya dari khazanah hikmat yang beredar.
Tetapi justru di situ letak nilainya. Sesudah puncak teologis yang tinggi di ayat 33, Matius menurunkannya ke tanah dengan kalimat yang bisa diingat seorang buruh harian sambil berjalan pulang. Dan nada ayat itu tidak optimistis: ia tidak berkata “hari esok akan cerah”, melainkan “hari esok punya kesusahannya sendiri — jangan diambil sekarang”. Realisme inilah yang membuat perikop ini bertahan melewati zaman-zaman yang buruk.
μεριμνάω — merimnaō, “kuatir”
Kata kerja inilah yang memikul seluruh perikop; ia dan kata bendanya muncul enam kali. Banyak penafsir menghubungkannya dengan akar merizō, “membelah, memecah” — sehingga merimna dipahami sebagai jiwa yang terbelah, perhatian yang tercabik antara sekarang dan nanti. Etimologi ini diperdebatkan, tetapi gambarannya cocok dengan konteksnya: ayat 24 baru saja berbicara tentang hati yang terbelah antara dua tuan.
Penting: kata ini tidak selalu negatif dalam Perjanjian Baru. Paulus memakainya untuk kepedulian yang terpuji — anggota tubuh saling “memperhatikan” (1Kor. 12:25), dan ia sendiri dibebani “kekuatiran terhadap semua jemaat” (2Kor. 11:28). Jadi yang dilarang Yesus bukanlah kepedulian, perencanaan, atau tanggung jawab. Yang dilarang adalah kecemasan yang menguasai, yang menempati kursi iman, yang membuat masa depan terasa sebagai wilayah tanpa Allah.
Garis pemisahnya dapat dirumuskan begini: tanggung jawab menghadapi hari esok dengan tindakan yang mungkin dilakukan hari ini; kekuatiran mencoba hidup di hari esok pada hari ini, dan memikul beban yang anugerahnya belum diberikan.
ψυχή — psychē, “hidup”
TB menerjemahkan “hidupmu”, dan itu tepat. Di sini psychē bukan “jiwa” dalam pengertian batin yang terpisah dari tubuh, melainkan nyawa, keberadaan yang bernapas. Karena itu paralelismenya utuh: psychē berpasangan dengan makanan-minuman, sōma (tubuh) berpasangan dengan pakaian. Yesus berbicara tentang kelangsungan hidup jasmani, bukan tentang ketenangan rohani.
ἡλικία dan πῆχυς — hēlikia dan pēchys, ayat 27
Kalimat ini memuat kesulitan terjemahan yang menarik. Pēchys adalah sehasta, ukuran panjang (kira-kira 45 cm). Hēlikia bisa berarti tinggi badan atau panjang umur.
Jika dibaca “tinggi badan”, kalimatnya menjadi janggal: menambah 45 cm pada tinggi seseorang bukanlah penambahan kecil, melainkan raksasa — padahal logika argumennya menuntut sesuatu yang sepele. Karena itu sebagian besar penafsir modern, dan TB, membaca hēlikia sebagai masa hidup: “menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya.” Ukuran panjang dipakai secara kiasan untuk waktu, sebagaimana Mazmur 39:6 mengukur umur manusia dengan satuan “beberapa telempap”.
Maknanya: kekuatiran adalah usaha yang tidak menghasilkan apa-apa pada perkara yang paling kita cemaskan, yaitu panjangnya hidup kita sendiri. Ia membakar energi hari ini untuk sesuatu yang sepenuhnya di luar kendali kita.
ὀλιγόπιστος — oligopistos, “kurang percaya”
Ini kata khas Matius (6:30; 8:26; 14:31; 16:8; 17:20) dan hampir tidak dipakai penulis lain. Perhatikan bahwa Yesus tidak memakai apistos, “tidak percaya”. Ia memakai bentuk yang berarti “beriman-sedikit”.
Dua akibatnya besar. Pertama, ini adalah kritik terhadap murid, bukan terhadap orang luar. Kekuatiran adalah penyakit orang percaya. Kedua, ini diagnosis, bukan vonis. Yesus tidak berkata “kamu tidak punya iman”; Ia berkata “imanmu mengecil”. Kekuatiran adalah iman yang menciut sampai seukuran kemampuan kita sendiri.
ἐπιζητέω dan ζητέω — epizēteō dan zēteō, ayat 32–33
Ayat 32 memakai epizēteō, bentuk yang diperkuat: bangsa-bangsa mengejar dengan gigih semua itu. Ayat 33 memakai zēteō: “carilah dahulu Kerajaan Allah”. Yesus tidak menyuruh berhenti mencari; Ia mengganti objek pencarian. Manusia adalah makhluk pencari; pertanyaannya bukan apakah kita akan mengejar sesuatu, melainkan apa.
Kata ethnē (“bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah”) tidak dipakai untuk menghina orang non-Yahudi, melainkan sebagai penanda cara hidup tanpa Bapa. Bila hidup dibayangkan sebagai semesta tanpa penyelenggara, mengejar tanpa henti adalah tindakan yang paling masuk akal. Kekuatiran, di mata Yesus, sepenuhnya rasional — bagi orang yang tidak punya Bapa.
πρῶτον — prōton, “dahulu”
Kata ini menandakan prioritas, bukan urutan waktu. Ayat 33 tidak berkata: selesaikan dulu urusan rohani pagi ini, baru boleh mengurus nafkah siang ini. Ia berkata: apa pun yang kamu kerjakan, Kerajaan Allah adalah yang menjadi ukuran dan tujuan, dan hal-hal lain menemukan tempatnya di bawah itu.
δικαιοσύνη — dikaiosynē, “kebenaran-Nya”
Dalam Injil Matius, dikaiosynē berarti kehidupan yang benar sesuai kehendak Allah — bandingkan “lapar dan haus akan kebenaran” (5:6), “dianiaya oleh sebab kebenaran” (5:10), “hidup keagamaanmu melebihi hidup keagamaan ahli-ahli Taurat” (5:20). Kata ini bermuatan etis dan sosial, bukan semata status hukum di hadapan Allah seperti dalam Paulus.
Akibatnya menentukan: mencari Kerajaan Allah berarti ikut mengerjakan keadilan-Nya. Ayat 33 tidak menyediakan pintu keluar dari dunia; ia menugaskan kita ke dalamnya.
προστίθημι — prostithēmi, “ditambahkan”
Bentuknya pasif — dalam tata bahasa Alkitab lazim disebut passivum divinum, “pasif ilahi”: yang menambahkan adalah Allah, namanya tidak disebut karena kesalehan bahasa. Yang penting adalah kata kerjanya sendiri: ditambahkan, bukan diberikan sebagai imbalan. Hal-hal itu menyertai, bukan dibayarkan. Perbedaan ini yang runtuh dalam pembacaan transaksional.
ἀρκετός — arketos, “cukup”, ayat 34
Inilah kata jembatan menuju tema kajian ini. Arketos berasal dari akar arkeō, “mencukupi”. Dari akar yang sama lahir kata αὐτάρκεια — autarkeia, “rasa cukup”, yang dipakai Paulus dalam dua tempat yang penting:
“Aku telah belajar mencukupkan diri (autarkēs) dalam segala keadaan.” — Filipi 4:11
“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup (autarkeia), memberi keuntungan besar… Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” — 1 Timotius 6:6, 8
Perhatikan pasangan “makanan dan pakaian” dalam 1 Timotius — persis daftar yang sama dengan Matius 6:25. Ini bukan kebetulan. Ada garis lurus dari ajaran Yesus tentang kekuatiran menuju etika kecukupan dalam surat-surat Perjanjian Baru. Kecukupan adalah bentuk terapan dari kepercayaan.
κακία — kakia, “kesusahan”, ayat 34
Secara harfiah kakia berarti “keburukan” atau “kejahatan”; di sini artinya kesukaran, penderitaan, kesulitan hidup. Terjemahan harfiah ayat 34b kira-kira: “cukuplah bagi hari itu keburukannya sendiri”.
Ini pengakuan yang jujur dan sedikit gelap: Yesus tidak menjanjikan hari tanpa kesukaran. Ia mengandaikan setiap hari membawa jatah kesukarannya. Yang Ia larang adalah menumpuk jatah beberapa hari sekaligus ke atas bahu satu hari. Kekuatiran adalah bentuk penimbunan — bukan menimbun harta, melainkan menimbun penderitaan yang belum tiba.
Argumennya berbentuk a fortiori (dari yang lebih besar ke yang lebih kecil), pola penalaran yang lazim dalam tradisi rabinik: “bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan?” Logikanya begini — Allah sudah memberikan yang besar, yaitu hidup itu sendiri, yang tidak seorang pun dapat menciptakan bagi dirinya. Mustahil Ia lalai pada yang kecil, yaitu penopang hidup.
Ada penajaman halus di sini. Kekuatiran cenderung membalik urutan nilai: sarana hidup perlahan menjadi lebih penting daripada hidup itu sendiri. Orang bekerja mati-matian demi hal-hal yang seharusnya melayani hidupnya, sampai hidup itu sendiri habis dalam prosesnya. Yesus mengembalikan urutannya.
Ayat ini kerap disalahpahami sebagai pujian terhadap tidak-bekerja. Bukan. Burung sangat sibuk; yang tidak mereka lakukan adalah tiga hal khas pertanian: menabur, menuai, mengumpulkan dalam lumbung. Ketiganya adalah teknologi manusia untuk mengamankan masa depan — menyimpan hari ini agar aman di hari nanti.
Jadi yang dikontraskan bukan kerja versus tidak kerja, melainkan kerja versus jaminan. Burung bekerja keras setiap hari tanpa pernah memiliki cadangan. Mereka hidup dari hari ke hari, dan mereka hidup.
Puncak kalimat ini bukan pada burung, melainkan pada satu frasa: “diberi makan oleh Bapamu yang di sorga.” Seluruh perikop bertumpu pada sebutan itu. Argumen Yesus bukan argumen dari keteraturan alam, melainkan argumen dari relasi. Alam hanya menjadi saksi; yang menjadi dasar adalah siapa Allah bagi kita.
Dan ada kalimat penutup yang mudah dilewati: “Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” Di tengah masyarakat di mana banyak orang diperlakukan sebagai tenaga kerja yang dapat diganti, Yesus menegaskan harga diri manusia sebagai bagian dari alasan untuk tidak kuatir.
Sesudah dua argumen teologis, Yesus menyisipkan satu argumen akal sehat yang dingin: kekuatiran tidak bekerja. Ia tidak menambah sehasta pun pada jalan hidup kita.
Ini penting karena kekuatiran selalu menyamar sebagai kegunaan. Ia terasa seperti sedang mengurus sesuatu; ia terasa bertanggung jawab. Yesus membongkar penyamaran itu. Kekuatiran adalah kegiatan yang menguras sepenuhnya dan menghasilkan nol. Ironisnya — dan pengetahuan kesehatan modern menegaskan hal ini — kecemasan kronis justru cenderung memendekkan, bukan memanjangkan, hidup.
“Bunga bakung di ladang” kemungkinan besar merujuk pada bunga-bunga liar Galilea yang mekar serentak di musim semi — anemon merah dan sejenisnya — bukan bunga taman yang dibudidayakan. Pentingnya justru di situ: bunga liar tidak ditanam, tidak dirawat, tidak dijual, dan tidak dilihat siapa pun. Keindahannya sepenuhnya cuma-cuma.
Dua kata kerja yang ditiadakan — “tanpa bekerja dan tanpa memintal” — adalah kata kerja produksi tekstil, pekerjaan yang menghasilkan pakaian. Sekali lagi, kontrasnya adalah antara memperoleh dan menerima.
Penyebutan Salomo bukan hiasan retoris. Salomo adalah puncak kemegahan material dalam ingatan Israel — dan juga, dalam narasi 1 Raja-raja, contoh bagaimana kemegahan itu berujung pada kerja paksa, pajak berat, dan perpecahan kerajaan. Menempatkan bunga liar di atas Salomo adalah pembalikan nilai yang radikal: yang tidak diproduksi lebih indah daripada yang dikumpulkan dengan biaya besar.
Lalu datang ayat 30, yang menyelamatkan seluruh perikop dari sentimentalitas. Rumput yang didandani Allah itu “hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api” — rumput kering memang dipakai sebagai bahan bakar tungku roti di Palestina. Artinya: Allah memberi keindahan penuh kepada sesuatu yang akan berakhir besok pagi.
Ini bukan janji kelanggengan. Ini pernyataan tentang watak Allah: Ia bermurah hati bahkan pada yang fana. Jika demikian caranya Ia memperlakukan rumput, bagaimana mungkin Ia menghitung-hitung terhadap anak-anak-Nya?
Diagnosis penutupnya lembut sekaligus tajam: “hai orang yang kurang percaya”. Bukan “orang berdosa”, bukan “orang bodoh”. Yesus memperlakukan kekuatiran sebagai penyakit iman, dan menegurnya dengan cara seorang gembala, bukan seorang jaksa.
Pengulangan larangan kini dibingkai secara berbeda. Kekuatiran digambarkan sebagai cara hidup orang yang tidak mengenal Allah sebagai Bapa — bukan karena mereka jahat, melainkan karena dalam kerangka mereka, memang tidak ada siapa-siapa yang bisa diandalkan.
Yesus di sini tidak menyodorkan teknik menenangkan diri. Ia menyodorkan pertanyaan tentang siapa kita. Ketika seorang murid kuatir, ia sedang hidup dengan peta dunia yang salah — peta yang benar berisi seorang Bapa; peta yang ia pakai kosong.
Dan perhatikan kalimat yang sangat sering dilewatkan: “Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.”
Ini bukan ayat asketis. Yesus tidak mengatakan kebutuhan itu rendah, duniawi, atau memalukan. Ia mengesahkannya. Makanan, minuman, pakaian — semuanya sah, semuanya diketahui Allah. Yang dipersoalkan bukan kebutuhan, melainkan kekuatiran dan pengejaran tanpa batas. Perbedaan ini adalah kunci untuk memahami ugahari secara benar: ugahari bukan memusuhi materi, melainkan menakarnya.
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Empat catatan agar ayat ini tidak disalahgunakan.
Penutupnya menawarkan hal yang jarang dianggap sebagai karunia: batas.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang sanggup menderita karena sesuatu yang belum terjadi, dan yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Kemampuan membayangkan masa depan — yang membuat kita bisa menanam, membangun, dan berjanji — adalah juga kemampuan yang menyiksa kita. Ayat 34 memberi pagar pada kemampuan itu.
“Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” dapat dibaca sebagai prinsip penakaran: satu hari adalah satuan iman. Kita tidak diberi anugerah untuk hari esok hari ini, sebagaimana Israel tidak diberi manna untuk dua hari sekaligus. Anugerah datang bersama harinya.
Perlu ditegaskan sekali lagi apa yang bukan dikatakan ayat ini. Ia tidak melarang perencanaan. Alkitab memuji semut yang menyiapkan makanan pada musim panas (Ams. 6:6–8), dan menampilkan Yusuf yang menimbun gandum tujuh tahun untuk menyelamatkan dua bangsa dari kelaparan (Kej. 41). Perbedaannya jelas: perencanaan menghadapi hari esok dengan tindakan yang bisa dilakukan hari ini; kekuatiran mencoba memindahkan hari esok ke dalam hari ini, di mana ia tidak bisa diapa-apakan.
Tema “cukup untuk hari ini” tidak lahir di Galilea. Ia adalah salah satu tema paling tua dalam Alkitab, dan Matius 6:25–34 berdiri di ujung sebuah tradisi panjang.
Keluaran 16 — Manna dan larangan menimbun
Di padang gurun, Israel diberi makanan setiap pagi dengan tiga aturan: kumpulkan secukupnya untuk hari itu, jangan simpan sampai besok, dan pada hari keenam kumpulkan dua kali lipat untuk Sabat. Mereka yang melanggar dan menimbun mendapati bahwa simpanan itu berulat dan busuk (Kel. 16:20).
Ini bukan sekadar aturan logistik. Ini pendidikan iman selama empat puluh tahun. Israel dilatih menerima hidup sebagai pemberian harian, bukan sebagai persediaan yang dikuasai. Dan hasil paling mengesankan dari sistem itu dicatat dalam Keluaran 16:18:
“Setelah mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan siapa yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.”
Ayat inilah yang dikutip Paulus berabad-abad kemudian — bukan untuk berbicara tentang mukjizat, melainkan untuk mendorong jemaat Korintus berbagi dengan jemaat Yerusalem yang miskin (2Kor. 8:13–15). Dengan demikian Paulus menarik garis yang perlu kita tarik juga: ekonomi manna menjadi etika jemaat. Kecukupan bukan hanya sikap batin; ia menjadi mekanisme pemerataan.
Doa Bapa Kami — Matius 6:11
Perikop kita berada di pasal yang sama dengan Doa Bapa Kami, dan sebenarnya merupakan uraian panjang atas satu permohonan di dalamnya:
“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” (Mat. 6:11)
Kata Yunani yang diterjemahkan “yang secukupnya”, epiousios, adalah salah satu kata paling misterius dalam Perjanjian Baru; ia nyaris tidak ditemukan di luar teks ini, sehingga sejak Origenes para penafsir memperdebatkan artinya — “yang perlu untuk keberadaan”, “untuk hari ini”, atau “untuk hari esok yang akan datang”. Apa pun pilihannya, ketiganya berkisar pada gagasan yang sama: jatah, bukan gudang.
Maka Matius 6:25–34 dapat dibaca sebagai jawaban atas pertanyaan: bagaimana rasanya hidup sebagai orang yang setiap pagi berdoa demikian? Jawabannya: seperti burung, seperti bunga bakung, seperti Israel di padang gurun — dan bukan seperti orang yang membangun lumbung lebih besar.
Amsal 30:8–9 — Doa ugahari yang klasik
“Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”
Doa Agur ini adalah rumusan ugahari yang paling tua dan paling seimbang dalam Alkitab. Ia menolak kedua ekstrem, dan alasannya bersifat teologis, bukan ekonomis: kekayaan berbahaya karena membuat Allah terasa tidak perlu; kemiskinan berbahaya karena dapat memaksa orang melanggar. Yang diminta adalah bagian — cukup.
Perhatikan bahwa doa ini menghindari romantisasi kemiskinan, sesuatu yang sering hilang dari khotbah modern tentang kesederhanaan. Alkitab tidak pernah menyebut kemiskinan sebagai berkat. Yang diberkati adalah kecukupan.
Bagian VI — Pokok-pokok Teologis
Karena letaknya sesudah ayat 24, kekuatiran tidak dibicarakan Yesus sebagai gangguan emosi melainkan sebagai pengakuan iman yang tidak diucapkan. Setiap kecemasan mengandung teologi tersembunyi: sebuah kalimat tentang siapa Allah, yang tidak pernah kita ucapkan tetapi kita jalani. Kalimat itu berbunyi kira-kira: masa depan adalah wilayah kosong yang harus saya amankan sendiri.
Inilah sebabnya Yesus tidak menjawab kekuatiran dengan teknik, melainkan dengan satu kata yang diulang-ulang: Bapamu. Jawaban terhadap kekuatiran bukanlah kepastian tentang hasil, melainkan kepastian tentang relasi.
Perlu dicatat dengan hati-hati: pernyataan ini tidak berlaku bagi kecemasan sebagai kondisi kesehatan. Perikop ini berbicara tentang orientasi hidup, bukan tentang gangguan yang memerlukan pertolongan medis atau psikologis. Menggunakan ayat ini untuk menyalahkan orang yang sedang berjuang dengan gangguan kecemasan adalah penyalahgunaan pastoral, dan bertentangan dengan nada lembut kata oligopistos itu sendiri.
Ini pembedaan yang menyelamatkan perikop ini dari kebohongan. Yesus tidak berkata bahwa pengikut-Nya tidak akan pernah lapar. Ia sendiri berpuasa dan lapar (Mat. 4:2); murid-murid-Nya memetik gandum karena lapar (Mat. 12:1); Paulus menulis tentang kelaparan dan kekurangan pakaian yang ia alami (2Kor. 11:27). Burung pun mati; rumput dibakar besok pagi — Yesus sendiri yang mengatakannya di ayat 30.
Yang ditawarkan bukan jaminan bahwa yang buruk tidak akan terjadi, melainkan jaminan bahwa yang buruk tidak terjadi di luar tangan Bapa. Ini iman yang lebih sulit, tetapi juga satu-satunya yang tahan terhadap kenyataan. Iman yang bergantung pada hasil akan hancur pada kegagalan pertama; iman yang bergantung pada relasi dapat bertahan bahkan di dalam kekurangan.
Ayat 32 adalah rem terhadap pembacaan asketis yang keras: “Bapamu tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” Kekristenan tidak pernah memuja kemelaratan. Tubuh perlu makan; orang perlu pakaian; keluarga perlu penghasilan yang layak. Semua ini sah dan diketahui Allah.
Garis yang ditarik Yesus bukan antara memiliki dan tidak memiliki, melainkan antara memerlukan dan mengejar tanpa batas. Persoalan Mamon bukanlah bahwa uang itu ada, melainkan bahwa ia tidak pernah mengatakan “cukup”. Mamon adalah tuan yang tidak punya garis akhir; itulah yang membuatnya menjadi tuan.
Sampai di sini kita dapat merumuskan tesis pokok kajian ini.
Menimbun adalah sebuah pengakuan iman. Ia menyatakan, tanpa kata-kata, bahwa masa depan hanya aman sejauh saya mengamankannya. Hidup ugahari juga sebuah pengakuan iman — yang menyatakan bahwa masa depan berada di tangan Bapa, sehingga saya boleh berhenti pada suatu titik dan menyebutnya cukup.
Karena itu ugahari bukan soal selera, gaya hidup minimalis, atau estetika kesederhanaan. Ia adalah tindakan teologis. Setiap kali seseorang memutuskan “ini sudah cukup”, ia sedang mengaku bahwa hidupnya tidak sepenuhnya bergantung pada dirinya sendiri. Dan justru karena itu ugahari sulit: ia menuntut kita melepaskan satu-satunya bentuk keamanan yang dapat kita kendalikan.
Sebaliknya, keserakahan pada dasarnya adalah ketidakpercayaan yang diberi bentuk ekonomi. Ia adalah usaha membangun penyelenggaraan tandingan, karena penyelenggaraan Allah tidak dapat diaudit.
Karena ayat 33 menyebut “kebenaran-Nya”, tema ini tidak boleh berhenti pada batin. Dan Keluaran 16:18 sudah memberi rumusnya: ketika setiap orang mengambil secukupnya, tidak ada yang kelebihan dan tidak ada yang kekurangan.
Logikanya sederhana dan tak terhindarkan: dalam dunia dengan sumber daya terbatas, penimbunan oleh sebagian orang menghasilkan kekurangan pada sebagian yang lain. Karena itu kekuatiran orang kaya tidak pernah menjadi urusan pribadi; ia punya korban. Ugahari, dengan demikian, bukan hanya kebajikan personal melainkan sumbangan terhadap keadilan — ia mengembalikan ke meja bersama apa yang tidak perlu saya ambil.
Ungkapan yang lazim dikaitkan dengan Mahatma Gandhi (meski atribusinya diperdebatkan) merangkumnya dengan baik: bumi menyediakan cukup untuk kebutuhan setiap orang, tetapi tidak untuk keserakahan setiap orang.
Karena ayat 34 mudah disalahgunakan menjadi pembenaran bagi ketidakteraturan hidup, perbedaan ini perlu dipertegas dalam bentuk tabel.
| Perencanaan (dianjurkan) | Kekuatiran (dilarang) |
|---|---|
| Bertindak hari ini demi hari esok | Menderita hari ini karena hari esok |
| Berfokus pada apa yang dapat dikerjakan | Berfokus pada apa yang tidak dapat dikendalikan |
| Berbatas: selesai ketika langkahnya diambil | Tanpa batas: berputar tanpa titik henti |
| Menghasilkan tindakan | Menghasilkan keletihan |
| Mengandaikan Allah hadir di hari esok | Mengandaikan hari esok adalah wilayah kosong |
Uji praktisnya satu kalimat: apakah pikiran ini menghasilkan langkah, atau hanya putaran? Jika ia menghasilkan langkah, itu tanggung jawab. Jika ia hanya berputar, itulah yang dilarang Yesus.
Kejujuran menuntut kita menyebutkan apa yang tidak terdapat dalam perikop ini, karena di situlah penyalahgunaan biasanya masuk.
Bahasa Indonesia memiliki kata yang hampir terlupakan namun sangat tepat untuk apa yang sedang diminta Yesus. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan ugahari sebagai sedang, pertengahan, sederhana — sikap tidak berlebihan, khususnya dalam hal harta dan konsumsi. Dari sana lahir bentuk keugaharian.
Kata ini lebih baik daripada padanan-padanan yang biasa dipakai, dan perbedaannya perlu dijaga:
| Ugahari ≠ miskin | Kemiskinan adalah kekurangan yang dipaksakan keadaan; ugahari adalah batas yang dipilih secara sadar. Yang satu adalah ketidakadilan yang harus dilawan, yang lain adalah kebajikan yang harus dilatih. Mencampuradukkan keduanya melahirkan romantisasi kemiskinan. |
|---|---|
| Ugahari ≠ pelit | Kekikiran menahan; ugahari melepaskan. Orang pelit membatasi pengeluaran agar simpanannya bertambah — itu justru bentuk kekuatiran. Orang ugahari membatasi konsumsi agar ada yang dapat dibagikan. |
| Ugahari ≠ askese | Askese kerap memandang materi sebagai musuh. Ugahari menerima materi sebagai pemberian yang baik, tetapi menakarnya. Ayat 32 menutup pintu bagi pembacaan yang memusuhi tubuh dan kebutuhannya. |
| Ugahari ≠ estetika | Gaya hidup minimalis dapat menjadi bentuk konsumsi yang lain — sedikit barang, tetapi mahal dan terkurasi. Ugahari bukan selera visual melainkan sikap terhadap masa depan. |
Dalam gereja-gereja di Indonesia, istilah ini telah lama diangkat sebagai tema teologis — Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia berulang kali menyerukan spiritualitas ugahari sebagai jawaban atas budaya konsumtif, ketimpangan sosial, dan krisis ekologis. Matius 6:25–34 adalah dasar biblis yang paling langsung bagi seruan itu.
Ada nilai tambahan dalam memakai kata ini. “Sederhana” terdengar seperti soal selera. “Hemat” terdengar seperti soal anggaran. Ugahari terdengar seperti soal karakter — dan memang itulah yang dimaksud.
Perikop ini diucapkan kepada orang yang kuatir karena benar-benar kekurangan. Sebagian besar pembaca kajian ini kuatir karena hal lain. Justru perbedaan itu membuat teks ini semakin relevan, bukan kurang — sebab jika kekuatiran tetap hidup di tengah kecukupan, maka kekuatiran jelas bukan sekadar akibat dari kekurangan.
Perubahan terbesar antara Galilea abad pertama dan dunia kita bukanlah jumlah barang, melainkan kenyataan bahwa rasa kurang kini diproduksi secara sengaja.
Seluruh industri periklanan bekerja dengan satu mekanisme dasar: menciptakan jarak antara keadaan Anda sekarang dan keadaan yang seharusnya, lalu menjual jembatannya. Algoritma media sosial menyempurnakan mekanisme itu dengan menyajikan, sepanjang hari, potongan hidup orang lain yang paling berhasil. Hasilnya adalah kondisi yang belum pernah ada dalam sejarah: orang yang berkecukupan secara objektif namun merasa tertinggal secara terus-menerus.
Di sinilah ayat 32 memperoleh makna baru. “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” kini bukan sekadar deskripsi tentang tetangga yang kafir, melainkan deskripsi tentang udara yang kita hirup. Pengejaran tanpa batas telah menjadi struktur, bukan sekadar pilihan pribadi. Karena itu ugahari hari ini menuntut sesuatu yang tidak dituntut dari pendengar pertama Yesus: perlawanan sadar terhadap lingkungan yang dirancang membuat kita merasa kurang.
Perhatikan bahwa di ayat 29, yang membandingkan bunga dengan Salomo adalah Yesus, bukan bunga itu. Bunga bakung mekar tanpa pernah tahu tentang Salomo.
Sebagian besar penderitaan ekonomi modern bukan berasal dari kekurangan melainkan dari perbandingan. Orang jarang menderita karena rumahnya kecil; ia menderita karena rumahnya lebih kecil. Dan tidak seperti generasi sebelumnya yang membandingkan diri dengan tetangga satu kampung, kita membandingkan diri dengan orang paling berhasil di seluruh dunia, setiap hari, di layar genggam.
Kecukupan mustahil dicapai selama ukurannya adalah orang lain, sebab selalu ada orang lain. Kecukupan hanya mungkin ketika ukurannya adalah kebutuhan yang dikenali dan panggilan yang dijalani — dan itulah yang dipulihkan ayat 33.
Ayat 34 memperoleh wujud yang sangat harfiah pada zaman ini. Cicilan, kartu kredit, dan berbagai fasilitas bayar nanti pada dasarnya adalah teknologi untuk mengonsumsi hari esok pada hari ini. Kenikmatannya di depan; bebannya dipindahkan ke masa yang belum tiba.
Dan hasilnya persis seperti yang diperingatkan Yesus: hari esok yang sudah dibelanjai lebih dulu akan datang membawa kesusahannya ditambah kesusahan yang kita kirimkan kepadanya. Kekuatiran dan utang konsumtif adalah dua gejala dari satu penyakit yang sama, yaitu ketidakmampuan tinggal di dalam hari ini dengan jatah hari ini.
Burung dan bunga bakung dalam perikop ini bukan sekadar ilustrasi retoris; mereka disebut sebagai sesama makhluk yang dipelihara oleh Bapa yang sama. Yesus meletakkan manusia di dalam satu tatanan pemeliharaan bersama seluruh ciptaan — lebih berharga, ya, tetapi tidak terpisah.
Krisis ekologis pada dasarnya adalah krisis kecukupan: pola konsumsi yang tidak mengenal kata “cukup” berbenturan dengan planet yang mengenalnya. Dalam kerangka ini, ugahari berhenti menjadi kesalehan pribadi dan menjadi tanggung jawab terhadap ciptaan. Setiap keputusan untuk berhenti pada titik cukup adalah keputusan yang punya akibat di luar diri kita.
Bagi banyak orang hari ini, kekuatiran tidak berwujud kelaparan melainkan keletihan yang tak kunjung selesai — perasaan bahwa apa pun yang dikerjakan hari ini tidak pernah cukup untuk mengamankan hari esok.
“Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” adalah salah satu kalimat paling membebaskan dalam Injil bagi kondisi ini. Ia memberi izin untuk menutup hari. Ia mengatakan bahwa ada beban yang bukan milik hari ini, dan karena itu bukan tanggung jawab Anda hari ini. Bukan kebetulan bahwa banyak jalan pemulihan — dari disiplin rohani sampai pendekatan psikologis modern — sampai pada rumus yang sama: satu hari pada satu waktu.
Ayat 33 barangkali adalah ayat yang paling sering dipenggal dari konteksnya dalam khotbah populer, dan diubah menjadi mekanisme: utamakan Tuhan, maka berkat materi akan menyusul.
Pembacaan itu gagal karena tiga alasan yang sudah kita lihat. Pertama, ia mengabaikan bahwa “semuanya itu” dalam ayat 33 merujuk kembali ke daftar ayat 31 — makan, minum, pakaian — bukan kepada kemakmuran. Kedua, ia mengubah prostithēmi (“ditambahkan”, secara cuma-cuma) menjadi imbalan yang diperhitungkan. Ketiga, dan yang paling menentukan, ia membuat pencarian akan Allah menjadi alat, sedangkan seluruh perikop justru bekerja untuk membebaskan kita dari memperalat apa pun demi keamanan. Mencari Kerajaan demi mendapatkan kekayaan bukanlah kebalikan dari melayani Mamon; itu adalah cara paling halus untuk melayaninya.
Perikop ini harus dijaga agar tidak berubah menjadi alat pembungkam. Ketika diucapkan oleh orang yang lumbungnya penuh kepada orang yang lumbungnya kosong, “janganlah kuatir” bukan lagi Injil melainkan penindasan yang dibungkus ayat.
Ada dua pengaman di dalam teks itu sendiri. Pertama, Yesus mengucapkannya dari dalam kemiskinan, bukan dari luar. Kedua, ayat 33 menyebut kebenaran-Nya — keadilan Allah — sehingga orang yang menerima perikop ini secara serius tidak dapat berhenti pada ketenangan pribadi; ia justru terpanggil menjadi bagian dari cara Allah memelihara sesamanya.
Sebab begitulah biasanya Allah memberi makan. Burung diberi makan melalui tatanan alam; manusia, sangat sering, diberi makan melalui manusia lain. Jemaat yang berbagi adalah bentuk konkret dari pemeliharaan yang dijanjikan di ayat 26. Dengan demikian, khotbah tentang “jangan kuatir” yang tidak disertai kesediaan berbagi bukan hanya tidak lengkap — ia menghalangi jawabannya sendiri.
Sepuluh rumusan ringkas yang dapat dibawa keluar dari kajian ini.
Dan jika seluruh kajian ini harus diringkas dalam satu kalimat, mungkin kalimat itu berbunyi:
“Cukup” bukanlah jumlah yang akhirnya tercapai, melainkan keputusan yang diambil oleh orang yang percaya bahwa hari esok sudah ada yang menjaga.
Ugahari tidak datang dari keyakinan melainkan dari kebiasaan. Beberapa latihan berikut mengubah tafsiran menjadi praktik.
Matius 6:25–34 tidak menjanjikan hidup yang mudah. Ia mengakui bahwa setiap hari membawa kesusahannya sendiri, bahwa rumput dibakar besok pagi, dan bahwa manusia memang memerlukan makanan, minuman, dan pakaian. Perikop ini jauh lebih jujur daripada penggunaannya yang biasa.
Yang ditawarkannya adalah sesuatu yang lebih kecil dan lebih kokoh daripada jaminan: sebuah hari, dengan jatahnya sendiri, di tangan seorang Bapa yang tahu apa yang kita perlukan. Dari situ lahir kemungkinan untuk berhenti mengejar — bukan karena kita sudah memiliki cukup banyak, melainkan karena kita akhirnya berani menyebut sesuatu cukup.
Itulah yang dimaksud dengan hidup ugahari: bukan hidup yang miskin, bukan hidup yang irit, melainkan hidup yang bertakar — takaran yang ditentukan oleh kepercayaan, bukan oleh ketakutan. Di tengah budaya yang seluruh mesinnya dirancang untuk memastikan bahwa kita tidak pernah merasa cukup, mengucapkan kata itu dengan sungguh-sungguh adalah salah satu tindakan iman yang paling berani yang tersedia bagi kita.
Dan itu tidak perlu dilakukan untuk seumur hidup sekaligus. Cukup untuk hari ini. Setiap harinya.
Kutipan Alkitab memakai Terjemahan Baru (TB) Lembaga Alkitab Indonesia. Transliterasi kata Yunani mengikuti bentuk yang lazim dalam literatur eksegetis berbahasa Indonesia. Beberapa hal yang disebut dalam kajian ini merupakan wilayah yang diperdebatkan para penafsir dan sengaja disajikan sebagai perdebatan, bukan sebagai kepastian, yaitu: etimologi merimna dari merizō; arti hēlikia pada ayat 27; arti epiousios pada Matius 6:11; asal-usul ayat 34 dari khazanah hikmat; serta perkiraan besaran beban pajak di Galilea abad pertama. Ungkapan yang dikaitkan dengan Gandhi pada bagian 6.5 disebutkan dengan catatan bahwa atribusinya tidak pasti.
Arti kata ugahari mengikuti Kamus Besar Bahasa Indonesia. Penggunaan istilah spiritualitas ugahari sebagai tema teologis mengacu pada seruan-seruan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).